Entah berapa lama aku diam saja tak menoleh ke arah Katya. Tiada juga Katya membu-ka pembicaraan lagi. Secercah senyum Rahayu tergambar di dalam ingatanku, diikuti oleh kesedihan yang ia rasakan ketika kami memutuskan untuk berpisah. Ketika kami sadar bah-wa kami telah jatuh terlalu dalam. Selain dari itu antara aku dengan Rahayu sudah tak ada lagi rasa seperti yang dulu. Rasa sayang dan cinta kami berdua hilang ketika kami sadar apa yang kami lakukan salah. Kami berdua menyadari itu sepenuhnya. Barangkali pun, upaya kami berdua untuk rekonsiliasi adalah bentuk penyesalan kami dan keinginan kami untuk memperbaiki hubungan yang sudah koyak itu. Tetap berakhir.
Aku berbalik menatap wajah Katya dalam-dalam. Tak kusadari aku melangkah mende-katinya. Katya masih duduk namun ia tak lagi bersandar di kursi. Ia mencondongkan badan-nya dan menumpu badannya dengan lengan di atas lututnya. Aku berlutut dengan satu kaki, tangan kananku menyentuh lembut dagunya. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya yang ayu.
Aku mencium bibirnya lembut. Ia tak merespon apa-apa. Kemudian aku duduk di sam-pingnya. Tangan kiriku memeluk tubuhnya dan mendorong kepalanya untuk bersandar di bahuku. Aku pegang erat tangan kanannya.
“Sebesar itu ‘kah kamu percaya padaku, Tya?” Ucapku agak berbisik. Aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa aku terkejut dan sedih dengan apa yang disampaikan oleh Katya tadi. “Sampai-sampai kamu ingin bebas denganku?”
Katya mengecup lembut pipiku, “tak bolehkah, Sayang?”
“Aku tidak tahu, Sayang. Sebelum aku mengenalmu, aku hanya seorang lelaki yang ke-hilangan arah. Saat itu aku bukanlah siapa-siapa.” Jelasku, “kemudian kita berkenalan, kita dekat dan aku mulai merelakan kenangan pahitku menjadi bagian hidupku. Dan kamu telah memberikan makna yang baru atas perjalanan hidupku. Mungkin saja buatmu.”
“Tentu saja aku juga merasakan hal yang sama, Mas.” Katya menjawab cepat, “dan kini aku telah menemukan kebahagiaanku denganmu, Mas. Aku percaya padamu. Aku yakin Mas Damar adalah orang yang mau bertanggung-jawab.”
“Tetapi apakah setimpal dengan melepaskan hawa nafsu antara kita berdua, Tya?” Aku bertanya balik padanya. Mencoba mengenali lagi rasionalitas keinginan itu.
“Kita berdua telah cukup dewasa untuk mengambil keputusan, Mas.” Katya menjelas-kan dengan lembut apa yang ada di dalam benaknya, “aku merasa telah cukup mengerti apa yang aku rasakan dan yang aku lakukan saat ini. Begitupun tentang kesediaanku untuk ber-ada di tempat ini saat ini.”
Katya diam sejenak kemudian melanjutkan, “bukankah Mas Damar bisa menebak apa yang aku rasakan?”
Aku menghela nafas dalam-dalam kemudian memastikan kepadanya, “bahwa kamu saat ini ragu dengan perasaan aneh yang tak pernah muncul sebelumnya?”
Komentar